Text
Relasi Agen Struktur dalam Ritual Ziarah Kubur Dewi Sekardadu pada Masyarakat Nelayan Sidoarjo
Disertasi ini mengkaji relasi agen dan struktur dalam praktik ritual ziarah kubur Dewi Sekardadu pada masyarakat nelayan di Dusun Kepetingan, Kabupaten Sidoarjo. Ritual ziarah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas religius, tetapi juga sebagai praktik sosial-budaya yang merefleksikan dinamika kekuasaan, makna simbolik, dan proses reproduksi struktur sosial dalam komunitas pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana agen-agen sosial—seperti masyarakat nelayan, juru kunci, tokoh adat, peziarah, dan pengembang wisata religi—berinteraksi dengan struktur sosial, budaya, dan ekonomi dalam konteks ritual ziarah makam Dewi Sekardadu.
Tinjauan pustaka mencakup penelitian terdahulu terkait ziarah kubur dan masyarakat pesisir, konsep relasi agen–struktur, teori strukturasi Anthony Giddens, pemaknaan budaya dan komunikasi ritual, konsep the power of community pada masyarakat nelayan, serta perumusan kerangka konseptual penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dusun Kepetingan dipilih sebagai setting penelitian karena memiliki keterkaitan historis dan kultural yang kuat dengan situs makam Dewi Sekardadu sebagai pusat aktivitas ritual.
Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa relasi agen–struktur di Kepetingan berlangsung secara dinamis melalui praktik ritual ziarah. Terbentuknya polarisasi tindakan agen mencerminkan perbedaan kepentingan antara agen tradisional dan agen modern, khususnya dalam konteks pengembangan wisata religi. Modalitas strukturasi—yang meliputi signifikasi, dominasi, dan legitimasi—tampak dalam pengelolaan, pemaknaan, dan otoritas simbolik di makam Dewi Sekardadu. Klasterisasi agen memperlihatkan adanya arena kontestasi sosial, di mana makam berfungsi sebagai ruang negosiasi kepentingan ekonomi, religius, dan budaya. Melalui komunikasi ritual, makam Dewi Sekardadu disimbolkan sebagai “dewi rezeki” dan “dewi kesembuhan”, yang memperkuat struktur makna dalam struktur sosial masyarakat. Namun demikian, proses simbolisasi tersebut juga mendorong terjadinya komodifikasi makam sebagai objek wisata religi.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa ritual ziarah makam Dewi Sekardadu merupakan praktik sosial yang mereproduksi sekaligus mentransformasi struktur masyarakat nelayan. Secara teoretik, penelitian ini memperkaya penerapan teori strukturasi dalam kajian antropologi dan sosiologi agama. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan pengelolaan wisata religi yang sensitif terhadap nilai budaya lokal serta keberlanjutan komunitas nelayan di Dusun Kepetingan.
Tidak tersedia versi lain